Malam Yang Terdiam

Malam Yang Terdiam

ditengah malam yang kelam,
kuhadapi bayang-bayang sendiri,
dalam ruang yang dulu dipenuhi tawa,
sekarang hanya dipenuhi jejak langkahmu
yang menghilang,
menyisakan kerinduan.

Kau pergi tanpa peringatan,
membawa serpihan hati yang terputus,
dan aku bertanya pada langit,
apakah semua ini nyata,
atau hanya mimpi buruk yang tak berujung?

Suara-suara dalam sepi berbisik,
“Apakah kau pernah benar-benar mencintaiku?”
keraguan merayap di setiap sudut pikiranku,
seperti bayang-bayang yang menari di dinding,
menyisakan ruang kosong
di antara kita yang tak lagi ada.

Dalam malam-malam panjang,
aku mengingat tawa kita,
setiap detik berharga kini menjadi
cinta yang hilang dalam kesedihan,
sebuah lukisan pudar yang tak dapat
kuperbaiki.

Kau adalah bintang yang padam,
dan aku, seorang pelaut tanpa arah,
mencari sinar di tengah gelap,
bertanya pada angin yang berhembus:
"Di manakah engkau kini?"

Kehilangan ini seperti badai,
mengguncang jiwa,
meninggalkan reruntuhan
yang harus kuhadapi sendirian,
menyelami kedalaman rasa,
mencari jejakmu yang terhapus.

Di antara harapan dan kenyataan,
aku terjebak dalam labirin keraguan,
apakah cinta ini akan bertahan,
atau hanya kenangan yang akan terlupakan?
Seperti debu yang ditiup angin,
terbang jauh dari pandangan,
sementara aku berdiri,
memeluk sepi,
dan mengenangmu dalam hening.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayangan Yang Tak Pernah Pergi