Kisah di Riak Jalan
Aku tertidur di pelabuhan tubuhmu,
hingga ombak rindu datang dan pergi,
menyusuri waktu yang perlahan berlalu.
Kau bilang, jarangnya kita bertukar pesan
bukanlah sebuah permasalahan besar.
Namun, mari kita berbahagia,
karena cinta kita bersemi melalui banyak kiasan.
Hingga tiba saat aku terbangun di dadamu,
sepotong puisi yang rapuh tertinggal,
di saat terakhir kita bertemu.
Jarak yang membentang adalah tuntutan,
terpaksa hadir di antara pekerjaan dan waktu yang tidak sejalan.
Aku tertidur memeluk bayang tubuhmu,
terbangun oleh riak kenangan tentangmu,
mengeja dirimu
di dalam puisi yang tak henti berhembus.
hingga ombak rindu datang dan pergi,
menyusuri waktu yang perlahan berlalu.
Kau bilang, jarangnya kita bertukar pesan
bukanlah sebuah permasalahan besar.
Namun, mari kita berbahagia,
karena cinta kita bersemi melalui banyak kiasan.
Hingga tiba saat aku terbangun di dadamu,
sepotong puisi yang rapuh tertinggal,
di saat terakhir kita bertemu.
Jarak yang membentang adalah tuntutan,
terpaksa hadir di antara pekerjaan dan waktu yang tidak sejalan.
Aku tertidur memeluk bayang tubuhmu,
terbangun oleh riak kenangan tentangmu,
mengeja dirimu
di dalam puisi yang tak henti berhembus.
Komentar
Posting Komentar